Antara Hasduk, Porsi, Push Up dan Squat Jump

“Satu porsi!” kata kak senior tegas kepada sebaris pramuka yang kedapatan memperlakukan hasduk seenaknya.

Sejurus kemudian, barisan pramuka tadi mengambil posisi push up, siap menerima konsekuensinya. Pelbagai ekspresi wajah mangkel menyambut seruan kakak senior yang terhormat.

Sering kita menjumpai beberapa kejadian demikian saat sedang mengikuti kegiatan pramuka. Pramuka yang identik dengan hasduk (merah putih) menjadikan persepsi bahwa pramuka sedang mengalungkan Bendera Merah Putih. Sebagian masih percaya dengan anggapan itu, sehingga, tatkala seorang pramuka tidak sengaja menjatuhkan hasduk dan menyentuh tanah, berarti mereka sudah siap dengan segalanya, konsekuensi berupa hukuman dari sang kakak senior.

Masalah hukuman atau konsekuensi mengenai hasduk yang “terbang” ketanah, itu masih dijunjung tinggi-tinggi setiap pangkalan. Bahkan, setiap pangkalan mempunyai otonomi untuk mengatur dan memberlakukan hukuman atas lalainya anggota memperlakukan hasduk.

“Itu masih dijalankan, apabila hasduk menyentuh tanah dikenakan hukuman atau sanksi,” kata Nur Kusumaningtya kepada CSN.

Punguti sampah, pramuka tidak takut kotor (Foto: Cilacapscout.com/Rachman)

Kepada Cilacapscout.com, Nur selaku pengurus Dewan ambalan SMK LPPM RI 2 Kedungreja itu juga mengatakan, pangkalannya mengatur segala sesuatu mengenai hasduk. Tidak hanya menyentuh atau tercecer ditanah, jika kedapatan memakai hasduk namun tidak memakai SPL (Seragam pramuka lengkap) sudah dipastikan, ia akan menerima konsekuensi berupa porsi.

“Satu porsi bagi laki-laki lima kali push up, kalo perempuan lima kali squat jump. Dipangkalan kami, saat memakai hasduk tidak boleh memakai sendal ka,” jelas Nur, pelajar kelas XI (sebelas) SMK.

Porsi adalah jumlah hukuman yang berlaku, jenis hukuman atau konsekuensi paling sering adalah push up untuk laki-laki dan squat jump untuk sebaliknya. setiap porsi dimasing-masing pangkalan berbeda-beda, tergantung kebijakan Pemangku Adat, mulai dari tiga (3) kali push up atau squat jump, sampai sepuluh (10) kali push up atau squat jump setiap satu porsinya.

“Di pangkalan saya, laki-laki satu porsi 15 kali push up, perempuan 15 kali squat jump,” kata Fadilah, Dewan Ambalan pangkalan SMA N 1 Kedungreja.

Pangkalan Ambalan Penegak dan Racana Pandega, mereka masing-masing mempunyai aturan beserta konsekuensi yang mengatur tentang kebijakan disetiap pangkalan, salah satunya untuk mengatur dan memberlakukan hasduk dengan benar.

Hal tersebut diamini Kak Santoso Budi Utomo saat dikonfirmasi Cilacapscout.com, pelatih atau instruktur Kwarcab 11 01 Cilacap mengatakan, dalam Ambalan, Dewan Adat merancang aturan-aturan beserta konsekuensi khususnya mengenai hal-hal yang ada di Ambalan.

“Rancangan aturan itu diajukan dalam Rapat Dewan Ambalan, kalau rapat dewan ambalan menyetujui rancangan tersebut, maka rancangan itu disahkan menjadi aturan,” jelas Kak Budi.

Lebih lanjut, kak Budi menjelaskan, masing-masing Ambalan dan Racana, aturan serta adat yang mengatur mengenai konsekuensi hasduk yang terjatuh atau tercecer ditanah itu berbeda-beda. Tidak semua pangkalan memberlakukan hukuman atau konsekuensi jika mendapati anggotanya menjatuhkan hasduk ke tanah.

Seperti Rahayu, pramuka cantik dari pangkalan SMK LPPM RI 18 Sidareja mengaku, ambalannya tidak memberlakukan hukuman terkait dengan hasduk yang jatuh ke tanah, “Kalo diambalanku mah gak ada hukuman, soalnya setiap ambalan ada yg menerapkan ada juga yang tidak,” kata Rahayu, Dewan Ambalan Raden Ajeng Kartini.

kak Budi (kiri) dan kak Narsim (kanan), terlihat gagah mengenakan Seragam Pramuka Lengkap (Foto: Cilacapscout.com/Rachman)

Beda Rahayu, beda juga dengan Fajri. Dewan Ambalan Kiai Haji Ahmad Dahlan pangkalan SMA Muhamadiyah Kedungreja itu mengatakan, aturan yang tertera di pangkalannya berbeda dengan yang lain. Menurutnya, konsekuensi jika hasduk terjatuh atau tercecer ditanah, adalah hukuman yang lebih kearah agama, yakni mengharuskan “pelaku” menghafal salah satu suratan pendek.

“Jika (hasduk) menyentuh tanah, bukan hukuman fisik yang kami terapkan, tapi lebih kearah yang agamis dan mendidik. Konsekuensinya dengan menghafal suratan pendek,” beber Fajri An Naba.

 

Hasduk Bukanlah Bendera Merah Putih

Hasduk atau setangan leher sudah sangat akrab sekali dengan Pramuka. Alasan dinamakan setangan leher, hal ini berdasar pada cerita perjuangan kepanduan pada zaman dulu, yaitu para Pandu Indonesia menggunakan kain persegi empat dan menggunakannya sebagai pengikat luka ditangan dengan melipatnya membentuk segitiga. Karena ukurannya pas di tangan dan diikatkan dileher, maka di namakan setangan leher (pas ditangan dan leher).

Sebelum diberlakukan PP Kwarnas Nomor 174 Tahun 2012. Hasduk (setangan leher) pramuka putri masih berbentuk pita dengan warna merah dan putih disetiap ujung sisinya. Sekarang, seiring dengan diberlakukannya PP Kwarnas tersebut, pramuka putri mengenakan hasduk atau setangan leher yang bentuk dan ukurannya sama dengan yang dikenakan oleh pramuka putra, berbentuk segitiga sama kaki, salah satu mempunyai sudut 90 derajat, bahan dasar berwarna putih dengan sepanjang sisi kaki segitiga diberikan lis berwarna merah selebar 5 cm.

Namun, terdapat sedikit kekeliruan mengenai hasduk atau setangan leher. Hasduk kerap dianggap sama dengan lambang Negara Indonesia dikarenakan warna sama, merah dan putih. Bendera Merah Putih, memang harus dan mesti dijunjung tinggi kehormatannya.

Dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Bab II (Bendera Negara) Pasal 4 Ayat (1) disebutkan :

Bendera Negara Sang Merah Putih berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran lebar 2 / 3 (dua- pertiga) dari panjang serta bagian atas berwarna merah dan bagian bawah berwarna putih yang kedua bagiannya berukuran sama.

Berbeda sekali dengan ukuran dan bentuk hasduk, hanya saja, warna yang sangat identik dengan Bendera Merah Putih. Merujuk Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor : 174 Tahun 2012 tentang petunjuk penyelenggaraan pakaian seragam anggota gerakan pramuka menyebutkan, setangan leher atau hasduk adalah sebagai bagian dari pakaian seragam pramuka.

Petunjuk Penyelenggaraan tersebut salah satunya mencantumkan bentuk, warna serta ukuran setangan leher atau hasduk, yakni berbentuk segitiga sama kaki, sisi panjang 100-120cm dengan sudut bawah 90º (panjang disesuaikan dengan tinggi badan pemakai sampai di pinggang) dengan bahan dasar warna putih terdapat lis merah selebar 5 cm.

Hal demikian juga dikatakan kak Santoso Budi Utomo. Beliau yang juga menjabat sebagai Kasatgas Pramuka Peduli (Pramuli) menjelaskan, hasduk dan Bendera Merah Putih sangatlah berbeda bentuk, ukuran serta cara menggunakannya.

Pramuka sedang Push Up (sumber foto : pramuka-senang.blogspot.com)

“Masing-masing punya ukuran sendiri-sendiri dan pemakaiannya pun berbeda. Kalau hasduk itu warnanya mirip Bendera Indonesia, memang ya,” tutur Kasatgas Pramuli sekaligus pelatih bidang peminatan Satuan Karya (Saka).

Senada dengan kak Budi, Fadillah juga mengatakan dengan tegas perbedaan antara hasduk dan Bendera Merah Putih, “Hasduk ya hasduk, bendera ya bendera, jelas beda. Penggunaannyapun berbeda sudah ada aturannya,” jelas Fadillah mantap.

Menilik Keputusan Kwartir Nasional Nomor 055 Tahun 1982 tentang petunjuk penyelenggaraan tanda pengenal Gerakan Pramuka. Setangan Leher Pramuka merupakan salah satu Tanda Umum dari Tanda Pengenal Gerakan Pramuka, sama halnya dengan tutup kepala untuk laki-laki (baret) serta topi boni untuk perempuan.

 

Bolehkah Hasduk (Setangan Leher) Pramuka Menyentuh Tanah?

Bolehkah hasduk menyentuh tanah atau kotor? Sebuah pertanyaan klasik yang sering kali menimbulkan perdebatan seru antara yang memperbolehkan dan yang tidak. Namun, perlakuan terhadap hasduk yang menyerupai Bendera Merah Putih tersebut kerap kali menjadi polemik berkepanjangan.

Dari pelbagai peraturan yang berlaku dalam Gerakan Pramuka seperti Keputusan Kwartir Nasional Nomor 055 Tahun 1982 tentang petunjuk penyelenggaraan tanda pengenal Gerakan Pramuka dan Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor : 174 Tahun 2012 tentang petunjuk penyelenggaraan pakaian seragam anggota gerakan pramuka. Tidak satupun yang secara eksplisit (gamblang) menjelaskan bahwa setangan leher atau hasduk Pramuka tidak boleh menyentuh tanah ataupun kotor.

Lengkap dengan hasduk, pramuka mengolah tanah untuk menanam sayuran (Foto: Cilacapscout.com/Rachman)

Sedangkan perlakuan terhadap Bendera Merah Putih, sebagai lambang negara sudah jelas tertera dalam Pasal 57 di UU Nomor 24 Tahun 2009 dari huruf a sampai d. Berikut ini bunyi dari pasal tersebut :

Setiap orang dilarang: a. mencoret, menulisi, menggambari, atau membuat rusak Lambang Negara dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Lambang Negara; b. menggunakan Lambang Negara yang rusak dan tidak sesuai dengan bentuk, warna, dan perbandingan ukuran; c. membuat lambang untuk perseorangan, partai politik, perkumpulan, organisasi dan/atau perusahaan yang sama atau menyerupai Lambang Negara; dan d. menggunakan Lambang Negara untuk keperluan selain yang diatur dalam Undang-Undang ini.

Terkait peraturan atau hukuman (porsi) kepada “pelaku” yang sengaja atau tidak menjatuhkan hasduk ke tanah memang menjadi hak otonomi masing-masing pangkalan atau ambalan melalui rapat dewan ambalan untuk memutuskan hukuman atau konsekuensinya.

Dan dapat disimpulkan bahwa hasduk (setangan leher) Pramuka bukanlah bendera negara. Melainkan bagian dari pakaian seragam pramuka dan salah satu tanda pengenal dalam Gerakan Pramuka, yang tetap harus dihormati dan dijaga termasuk kebersihannya.

Kebersihan bisa menjadi cerminan kepribadian pemakaianya. Sangat tidak layak tentu, jika dalam kegiatan, seorang pramuka mengenakan hasduk yang kotor atau penuh dengan lumpur. Sehingga hasduk haruslah dijaga agar tetap rapi dalam pemakaiannya dan bersih, sebagaimana halnya pakaian pramuka lainnya.

Namun, seperti dikatakan kak Santoso Budi Utomo, sebagai pramuka harus pandai mengenakan dan merawat hasduk agar tetap bersih serta rapih. Tetapi, hal itu jangan sampai membatasi darma dan bakti seorang pramuka.

Komandan Pramuka Peduli itu mengharapkan, jangan sampai dengan alasan menjaga kebersihan hasduk, seorang pramuka malas-malasan, atau bahkan tidak mau terjun membantu korban bencana banjir, karena takut hasduk kotor dan basah, misalnya.

“Pandai-pandai memakai hasduk, kalo sekiranya takut kotor, bisa pakai kaos lapangan,” pungkas kak Budi.(RS001-CSN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *